Senin, 13 April 2026 10.00 WITA

Foto Tanggal 2 Februari 2026 saat penyambutan Kirab Salib National Youth Day (NYD) ke-3, Thobias Reginson Oron turut ambil bagian sebagai penari tradisional dalam prosesi sakral tersebut.
Sore itu, angin berembus perlahan di pinggiran Jalan Maumere – Magepanda, Kelurahan Kota Uneng Kabupaten Sikka. Cahaya sang surya mulai meredup, menyisakan hangat yang lembut di antara derap langkah para penari. Di tengah lingkaran para penari tersebut, tampak seorang remaja berdiri di barisan depan. Langkah kaki Thobias menghentak perlahan mengikuti irama musik tradisional yang mengalun, dengan gerakan yang lentur ia menari penuh penghayatan, seolah setiap denting musik telah menyatu dalam dirinya. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang kuat, remaja ini justru memilih untuk melestarikan budaya daerahnya.
Thobias Reginson Oron, Seorang Pelajar SMA Negeri 2 Maumere. Ia telah mengenal seni tari tradisional sejak masih duduk pada bangku Sekolah Dasar di SDK Gusung Karang Kojagete, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Tari Hegong tarian khas daerah Sikka mulai ia kenal dari seorang guru bernama ibu Elen “Saya pertama kali diperkenalkan dengan tarian tradisional ini oleh ibu Elen guru Sekolah Dasar saya, Ia juga menjadi tokoh yang menginspirasi saya,” ucap Thobias.

Foto Tanggal 2 Februari 2026 saat penyambutan Kirab Salib National Youth Day (NYD) ke-3, Thobias Reginson Oron turut ambil bagian sebagai penari tradisional.
Sejak saat itu, Thobias mulai serius dalam menekuni dunia tari tradisional. Latihan demi latihan menjadi bagian terpenting dalam keseharian hidupnya. Tidak jarang ia harus mengulang gerakan tari berkali-kali agar gerakannya sesuai dengan lantunan irama musik Gong Waning sebagai musik pengiring tarian Hegong. Baginya seni tari bukan sekadar pertunjukkan, tetapi juga bentuk rasa cinta terhadap budaya sendiri. Ia ingin menjaga budaya daerahnya agar tetap hidup sekaligus menunjukkan kepada orang lain bahwa warisan lokal memiliki nilai yang patut dibanggakan “Saya ingin melestarikan budaya daerah dan saya merasa bangga bisa menampilkan keunikan budaya sendiri di hadapan orang lain,” ungkapnya. Perjalanan Thobias tidak selalu mudah. Saat pertama kali tampil di hadapan banyak penonton, ia mengaku merasa sangat gugup. Namun, perasaan tersebut perlahan lahan berubah menjadi suatu kebanggaan. “Saya merasa sangat gugup, tetapi saya lebih sering merasa bangga karena saya bisa menampilkan seni tari tradisional,” katanya.
Berbagai pengalaman tampil telah ia lalui, mulai dari hajatan penerimaan tamu penting hingga kegiatan sekolah. Ia pernah tampil dalam acara kedatangan anggota MPR-RI, Kirab Salib National Youth Day (NYD) serta penyambutan Bupati Sikka. Kesempatan tampil di berbagai acara menjadi momen yang tak terlupakan baginya. Di hadapan banyak penonton, ia tidak hanya menari, tetapi juga membawa identitas daerahnya. Setiap gerakan yang ia tampilkan seolah-olah menjadi bahasa yang menyampaikan kisah tentang budaya Sikka. Momen-momen tersebut menjadi pengalaman yang berharga bagi Thobias.

Foto Tanggal 2 Februari 2026 saat penyambutan Kirab Salib National Youth Day (NYD) ke-3, Thobias Reginson Oron bersama teman-teman satu tim penari tradisional utusan SMA Negeri 2 Maumere yang turut mengambil bagian dalam prosesi sakral tersebut.
Namun, dibalik semangatnya, Thobias juga menghadapi sebuah tantangan yang besar. Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, minat generasi muda terhadap seni tradisional semakin berkurang. Banyak remaja lebih tertarik pada budaya modern dibandingkan mempelajari warisan budaya daerah sendiri. “Tantangan terbesar adalah kurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisional karena mereka lebih tertarik pada budaya modern,” ujarnya.
Meski demikian, Thobias tetap teguh pada pendiriannya. Ia percaya bahwa seni tari tradisional memiliki nilai-nilai yang sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan. Melalui tarian, Thobias belajar tentang disiplin, tanggungjawab dan rasa cinta terhadap keunikan budaya sendiri. Selain itu, seni tari tradisional khususnya Hegong juga membuatnya lebih percaya diri dan lebih menghargai budaya sendiri sebagai bagian dari warisan para leluhur.
Bagi Thobias, menari bukan hanya sekadar gerakan semata, melainkan cara untuk menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup dan berkembang ditengah arus modernisasi dan globalisasi. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang melestarikan warisan leluhur. “ Saya berharap generasi muda bisa lebih giat dalam mencintai dan melestarikan seni tradisional,” katanya

Foto Tanggal 10 April 2026, saat wawancara penulis bersama Thobias Reginson Oron di halaman depan SMA Negeri 2 Maumere.
Di akhir perbincangan, ia menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat bermakna bagi teman-eman seusianya. “ Jangan malu untuk belajar seni budaya tradisional, karena itu adalah bagian dari identitas kita sebagai pribadi yang lahir dan tumbuh di daerah tersebut,” tegasnya.
Penulis Feature : Maria Alfaresty Liko Namang
Kelas : XA
Editor : Lxz
Dokumentasi : Lxz